Kamis, 15 Maret 2018

Jakarta Itu Ibu kota bukan Ibu Tiri

Jakarta Itu Ibu kota bukan Ibu Tiri

Warna- warni Ibu kota, gedung- gedung bertingkat, peluang kerja dan bisnis, fasilitas yang modern, mall dimana- mana, gemerlap malam serata kota yang hidup 24 jam,  seakan memberikan suguhan yang menggiurkan bagi para perantau menggantungkan nasibnya untuk perubahan yang lebih baik. Tak sedikit kisah pilu yang membawa aura negatif tentang Ibu kota, namun banyak juga kisah hebat dari orang-orang sukses di sana. Jakarta bak the beauty and the beast mencerminkan sebuah kota yang memiliki keindah aura positif dan aura negatif. Akan tetapi semua itu tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya.

Ada yang bilang Ibu kota itu lebih kejam dari pada Ibu tiri, jadi jangan pernah berani datang ke Jakarta. Namun hal itu tidak menyurtkan langkah ini tuk merantau ke sana. Aku berfikir jika orang lain bisa sukses di ibu kota, kenapa aku tidak, toh Allah ciptakan manusia itu semua sama.
Tapi langkah itu tak selamanya lurus, banyak lika- liku yang di jumpai. Keluarga tak begitu menyetujui, baik itu dari Ayah, Ibu dan si abang, alasnya karena aku anak satu- satunya perempuan di keluarga kami,  “kalau mau kerja di kota ini juga banyak, akan di carikan” kata si abang. Belum lagi beberapa saudara jauh yang hanya tau berita dari televisi atau cerita orang yang katanya Jakarta itu bahaya sarangnya kriminal, bahkan ada juga yang meremehkan “memang kamu bisa hidup di Ibu kota ?”, jlebb… semakin aku di pertanyakan maka semakin semangat niatku menuju kesana. sebenarnya bukan untuk pembuktian apa kata mereka, tapi tujuan tuk mencapai impian.

Semua saran aku cerna dengan baik, aku mencari informasi sebanyaknya tentang Jakarta, Alhamdulilah ada sepupu yang baik memberikan informasi positif tentang Jakarta, Dia sangat mendukung saudaranya merantau dan siap mencarikan informasi lowongan kerja. Dan ada juga teman baik yang sudah beberapa tahun kerja disana , dia memberikan motivasi positif tentang Jakarta, “kalau disini jangan khawatir soal kerjaan, gak sampe sebulan juga dapat asalkan punya skill yang mempuni”.

Cara merantauku mungkin bisa dibilang unik, aku tak menyebutnya ini sebuah kebetulan, mungkin sudah takdirnya. Datang pertama ke Jakarta karena ingin jalan- jalan ala backpacker bersama dua teman perempuan lainya, yang satu masih kuliah di Palembang dan satu lagi sudah lama kerja di Jakarta. Aku sudah meminta izin pada ibu beberapa bulan sebelumnya, sehabis sidang kuliah mengejar target wisuda membuatku agak stress dan ingin refreshing sejenak, barulah nanti benar- benar fokus cari kerja. Dan sempat bilang akan membawa beberapa baju formal, laptop serta dokument penting yang diperlukan sembari untuk melamar pekerjaan disana.

Proses merayu ibu lumayan panjang tuk memastikan bahwa jangan khawatir anak gadisnya akan baik- baik saja disana, dan  akhirnya disetujui dengan syarat selepas jalan- jalan cari kerja disana hanya diberi waktu seminggu, jika tidak harus pulang.

Dengan modal do’a restu orang tua dan selalu libatkan Allah setiap langkah, aku yakin kesana. Allah tau kita mampu asalkan tetap berusaha dan selalu berprasangka baik padanya, karena Allah sesuai prasangka hambanya. Jika berpikirnya baik Insyallah akan baik sebaliknya jika dari awal sudah negatif, lantas bagaimana Allah percaya akan jadi positif, kalau kitanya saja berpikiran negatif?.

awalnya sempat merasa asing disini, baik di ruangan, di area gedung, lobi bahkan di food court sekalipun begitu banyak orang asing, dari berbagai negara. Dari sini aku merasa, yang menggantungkan nasibnya sebagai perantauan di Ibu kota itu tak selamannya dari luar daerah, bahkan dari luar negri pun juga ada, meskipun kedudukan jabatanya berbeda baik dia jadi manager, CEO, ataupun investor tetap saja mereka mengantungkan keuntungan bisnisnya di sini. Apapun itu banyak sisi positifnya seakan menjadi magnet tuk menarik menghampiri Ibu kota.

Banyak fakta positif yang aku temui selama disini, pernah beberapa kali pergi interview aku sering menanyakan alamat dan mendapatka respon pertolongan yang sangat baik bahkan ada yang pernah menghantarkan sampai kantor tujuan, walaupun tujuan orang itu berlawanan arah.

Sebelumnya aku aktif di dunia kerelawanan di Palembang, dan Alhamdulillah seakan semesta mengiringi langkah kebaikan ini, aku dipertemukan kembali dengan lingkaran positif disini. Ekspektasi orang- orang selama ini tentang Ibu kota itu penuh dengan kriminalitas, induvidualis dan jarang ada tolong- menolong tak selamanya benar, masih banyak orang- orang baik disini, yang rela mengorbankan baik waktu, tenaga, maupun hartanya untuk kebaikan.

Mulai dari sini lah aku banyak belajar tentang kehidupan, Ibu kota bukan hanya tempat menggantungkan nasib mencari uang sebanyak- banyaknya untuk menumpuk kekayaan sendiri, namun masih banyak lingkaran positif yang memperhatikan kepentingan orang lain.

Aku menyebutnya ini terjerumus dilembah kebaikan, disini aku banyak dipertemukan dengan penggerak kebaikan, dulu pernah ikut serta sebagai panitia lokal kelas Inspirasi Palembang #1 dan ternyaat disini jauh lebih besar pergerakanya bukan hanya satu atau dua wilayah tapi sejabodetabek. Dan memang disini lah kantor pusat untuk program pergerakanya dari Indonesia Mengajar.

Mereka menyebarkan kebaikan melalui berbagi inspirasi tentang profesi masing- masing ke sekolah- sekolah marginal bahkan sampai ke pelosok- pelosok daerah. Dan aku kembali terjerumus di atap yang sama namun berbeda program yaitu Ruang Belajar, disini pergerakan relawan menyebarkan virus positif untuk guru- guru di daerah, berbagi metode belajar kreatif, agar anak- anak di negri ini meski sekolah di daerah pelosok tetap mendapatkan hak yang sama dalam menerima  pelajaran yang lebih kreatif untuk meningkatkan  semangat belajar mereka.

Seakan terjerumus lebih dalam, masih berkaitan dengan pendidikan, aku ikut serta berbagi ilmu bersama anak istimewa yang terpaksa hidup dijalan karena nasib mereka yang kurang beruntung, aku dipertemukan dengan Komunitas Peduli Pendidikan Anak Jalanan (KOPPAJA) cabang bekasi tepatnya, karena kebetulan tempat kerja pertama ku disana.

Meskipun tinggal di kabupatenya Bekasi yang masih pinggiran Ibu kota namun, tuk mengisi waktu pekanan aku sering membagi waktu ke Jakarta mengikuti lingkaran positif ini. Menghilangkan kepenatan senin hingga Jum’at yang sudah penuh dengan kegiatan duniawi. Dan beruntungnya aku tak sendiri merasakan hal ini, masih banyak ratusan hingga ribuan yang berfikiran sama. Karena hidup ini singkat, Allah tak memberikan waktu kita menetap selamanya di Bumi, maka manfaatkan waktu sebaik- baiknya.

Relawan itu ibarat saudara yang terpisah, jadi dimanapun berada meski baru bertemu langsung dengan hangatnya menyambut relawan baru. Sempat terpikir betapa beruntungnya memilih jalan menjadi relawan, memilih jalan kebaikan, karena dengan ini banyak cara Allah lancarkan semua urusan apalagi tentang kebaikan dan dipertemukan dengan saudar- saudara baru yang begitu baik.

Aku juga melanjutkan dunia kerelawanan yang selama ini aku ikuti di Rumah Zakat Palembang, dan sangat beruntungnya lembaga ini ada di seluruh Indonesia, untuk kesekian kalinya aku dipertemukan lagi dengan orang- orang baik, bukan satu cabang tapi juga sejabodetabek. dan aku fokus di Relawan Nusantara Bekasi, disini bukan sekedar tentang pendidikan yang di perhatikan, ada juga bidang pemberdayaan ekonomi, lingkungan, kebencanaan dan peduli kemanusia lainya.

Sebenarnya masih banyak lagi komunitas kebaikan yang memperhatikan kepentingan orang lain seperti, Wakaf cinta Al-qur’an, mereka menyalurkan Al-qur’an, fasilitas mengaji dan memeberi kegiatan mentoring keislaman hingga pelosok negri, ada cahaya Anak Negri, Yayasan Education religion bee Entertainment yang peduli anak jalanan dan dhuafa, Saung garpu yang peduli akan pendidikan anak di kampung pemulung, sedekah harian, laskar sedekah, Clean Action yang peduli akan sampah, beberapa komunitas peduli kanker, perlindungan untuk kekerasan pada wanita dan anak serta masih banyak lagi komunitas lainya.

Seakan ini sebagai fakta yang aku temui bahwa, Jakarta itu Ibu kota bukan Ibu tiri, tak selamanya semua di pandang dengan negatif. Semesta mempunyai aura yang menyertai hidup kita baik itu positif atau negatif, ia akan menyertai langkah sesuai apa yang kita pancarkan, seperti hal prasangka baik kepada Allah, maka jika kita ingin menjumpai yang baik- baik teruslah berbuat baik dan berprasangkalah yang baik. Dan yang pasti lakukan lah itu dengan ketulusan hati semua karena Allah tanpa pamrih, biarkan kebaikan itu dengan sendirinya mengalir menjadi bekal kita kelak menuju hari akhirNya.

Sabtu, 10 Februari 2018

Bukan Cinta Dewasa



Bukan Cinta Dewasa

“Seringkali kita mencari pembenaran diri. Mengatasnamakan itu cinta dewasa. Hal ini lah yang terkadang menjerumuskan kita lebih dalam lagi ke jurang yang kita ciptakan sendiri. Sadar ataupun tidak kita terlalu larut dalam dunia kita sendiri tanpa adanya kepastian”.

Ku mulai melangkah menuju kapal yang masih berasandar di pelabuhan. Hampir 5 jam aku menunggu berdesak- desakan di pelabuhan ini. Dua hari terakhir ternyata cuaca buruk ombak tinggi hampir mencapai 6 Meter. Kerumunan orang- orang dimana - mana dan mulai berdesakan memaksa ingin lebih dahulu memasuki kapal.

Kali ini kota tujuanku Palembang. Kota yang sekarang mulai melejit bersaing membangun fasilitas umum seperti di Ibu kota. Aku memiliki sahabat baik disana, Diska. Mendadak aku memohon cuti kerja. Aku butuh waktu untuk menata kembali kepingan hati yang hampir menjadi serpihan ini. Beruntungnya si Boss mengizinkan. Masih jelas dalam ingatanku pertengkaran hebat kemarin. Aku meminta kepastian tentang hubungan selama ini. Berdalih mengatasnamakan cinta dewasa, sudah saling paham dan dijalani saja tanpa adanya ikatan sah semakin membuatku jengah. Dulu kujalani saja, toh kita sudah dewasa ini, menjalaninya dengan normal tanpa pernah berbuat yang aneh, bahkan bergandengan tangan pun tak pernah.

Ternyata semua itu salah, selama ini kami membuat pembenaran diri, terperangakap dalam lingkaran perasaan yang diciptakan sendiri. Sebenarnya setahun yang lalu pernah aku tanyakan kepastian ini. “memang kamu sudah siap menikah, bagaimana karir kamu yang mulai naik, karir aku juga dan tentunya kamu harus merelakan ketika nantinya mempunyai anak, kamu bisa ?, kalau aku belum”. Itulah jawaban yang dia ucapkan. Dan kemarin pun jawabanya kurang lebih sama, walaupun saat ini dia sudah mapan di sebuah perusahaan ternama. “kamu lupa sama mimpi kita Ra, membangun bisnis tour travel dan kelak kita keliling dunia bersama”. Itu kata terakhir yang diucapkanya sebelum aku mengucapkan meminta pisah.

Keputusan ini seakan mengingatkanku pada kejadian seminggu lalu yang sangat menohok hati. Ketika kami singgah di masjid salah satu mall, karena jam sudah menunjukan waktunya Sholat Magrib. Selesai sholat ada seorang ibu yang menyapa ku, “nak yang berjalan berdampingan tadi itu suami mu kah ?”. “Bukan bu dia teman dekat saya”. Di zaman millenials ini masih ada yang menanyakan hal yang sudah biasa. “oww.. saya pikir suaminya, sepertinya kalian berdua bukan sekedar teman biasa, kenapa tidak menikah saja, daripada sekarang kalian menuju mendekati zina”. Ibu itu berkata dengan lembut, namun menusuk hingga relung hati. Tak berapa lama aku pamit undur diri terlebih dahulu. “Oh ya kalau ada waktu luang, minggu ini ada kajian membahas tentang itu kamu datang ya”. “Insyallah bu”. Semenjak kejadian itu aku mulai berfikir apa iya yang kami lakukan itu sudah mendekati zina ?.

Karena masih merasa benar akhirnya aku hadir pada kajian itu. Jelas saja kajian itu mengupas tuntas tentang hal yang sedang kami jalanin. Pada intinya dalam Islam itu tak ada yang namanya pacaran, tunangan, friend zone atau apalah itu, kemana- mana selalu bersama tanpa ikatan yang sah. Dan dijelaskan juga beberapa hal tentang zina, ternyata zina bukan tentang berzina perbuatan keji saja, ada juga zina mata, hati perasaan dan lainya yang membuka ruang kepada seytan ikut bermaina di dalamnya. Air mata yang sedari tadi aku tahan tak terbendung lagi, ku berlari menuju tempat wudhu dan menangis sejadi-jadinya. “ya Allah terlalu besar dosa yang aku lakukan bersamanya selama ini. Bahkan sampai bertahun- tahun menjalin hubungan tanpa ikatan yang sah.

kapal pun berlabuh,  aku melanjutkan perjalanan ke stasiun kereta api di Lampung untuk menuju tujuan akhir ke kota Palembang. Terlihat agak rumit sepertinya, beberapa kali berhenti dan beralih angkutan umum lainya .
Namun aku menikmatinya, setiap perjalananini, aku menemui banyak cerita- cerita tersendiri.

Diska sudah menanti di depan gerbang. "Asalamualaikum Diska, akhirnya kita bertemu lagi”. “Oh ya kenalin ini abang aku Hanif”. Diska  memperkenalkan Abangnya, dia sangat sopan hanya menyimpukan tangan ke dadanya seakan tak ingin bersalaman dan tersenyum. Sambutan keluarga Diska sangat hangat, pantas saja Diska memiliki kepribadian yang baik, mungkin ini yang diajarkan dari keluarganya yang sangat ramah tamah. Malam itu sangat syahdu, menikmati jamuan makan malam masakan khas Palembang Pindang kepala Ikan Gabus dan sambal mangga membuat aku  terharu. suasananya mengingatkanku kepada keluarga nan jauh di Kediri.

Setelah di kamar, barulah aku bercerita semuanya. "Ternyata selama ini aku salah Dis, salah menempatkan kasih sayang yang tak semestinya ada sebelum ikatan itu sah, dan itu sudah bertahun- tahun”. Air mata mulai mengalir. “Tak mengapa Ra, berarti Allah masih sayang sama kamu, Allah menegurmu sebelum dosa itu semakin menggunung. Lalu bagaimana dengan si Dia, apakah kamu sudah menjelaskan alasan kenapa kamu minta pisah?”. Aku masih bingung menjelaskanya Dis. kemarin aku hanya meminta kejelasan hubungan ini, namun dia masih belum siap, dan aku lansung meminta pisah”. “Harusnya kamu jelaskan pelan- pelan Ra, mungkin kalian bisa sama- sama hijrah”. malam itu banyak nasehat yang aku dapatkan dari Diska dan aku merasa lebih baik dari sebelumnya.

Hand phone bergetar, terlihat itu dari si Dia. Aku mencoba berdamai dengan hati dan mulai mendengarkan sapaanya. “Halo Sayang, kemana aja, aku khawatir dari kemarin kamu gak ada kabar?”. “Asalamualaiku kiki, jujur aku masih sayang sama kamu ki, tapi aku tak bisa lagi terusan begini, kasih sayang yang kita lakukan ini salah. Tak semestinya kasih sayang ini berbunga hingga merekah ketempat yang tak semestinya. Tanpa ada ikatan sah, kita sudah memberikan ruang pada seytan bermain didalamnya ki.” Tangisku pun mulai pecah.

“Kamu bicara apa sih Ra, selama ini kita  tak pernah pun melakukan hal yang aneh, toh kita sudah dewasa ini."
“Iya ki, tapi dalam Islam tidak mengajarkan demikian, kita salah ki, jika memang kamu bilang ini cinta dewasa, harusnya kita menikah ki agar Allah lebih restu. Aku kasih kamu waktu untuk berfikir 2 hari dan besok ada kajian di Masjid mall yang seminggu lalu kita datangi. Datanglah dan resapi. Jika kamu masih dengan jawaban yang sama seperti kemarin, aku mundur ki, lebih baik kita pisah. Aku melakukan ini karena ingin rasa kasih sayang ini benar pada tempatnya yang sah  dan adanya karena Allah. Bukan karena pembenaran diri lagi."


Ternyata Allah lebih sayang, menunjukan kebenaran yang sesungguhnya atas keseriusan si Dia selama ini dan aku pun mulai menata hati tuk mengikhlaskanya. 


@Kin_Chaniago
#week3
#1week1post
#WiFiRegionalJakarta


Kamis, 01 Februari 2018

Janji Mentari Part#2




Janji Mentari 

"Maaf mbak bangku sebelahnya kosong ya ?". orang asing yang duduk disampingku sedari tadi senyum- senyum sendiri mulai berbicara. Tiba- tiba aku merasa kesal sama orang ini, ya Allah maafkan perasaan kesalku. Ternyata mas ini mau numpang duduk, karena dia mengajak keponakanya dan ingin tidur, karena kasihan mas ini mencari tempat kosong untuk duduk. Aku yang masih kesal tetap memeprsilahkany duduk, gak ada alasan buat aku tuk melarangnya, walaupun tiket ini masih aku pegang.

"Nama saya Arman", si mas ini mengulurkan tangan memperkenalkan diri, responku masih datar dan menyimpu tangan kedada, tak mau berjabat tangan yang bukan muhrimnya. Dan lagi- lagi dia tesenyum. Dia tetep kekeh menanyakan nama ku, " oh ya nama kamu siapa?"."kiara" jawabku dengan singkat. saat ini Aku sedang malas untuk berbicara, tuk mengalihkannya pandanganku kembali ke jendela kereta api. 

Ar, sekarang mulai senja, ini juga yang ingin kita lihat bersama bukan, senja jingga yang merona di balik jendela. Tapi hari ini tidak seperti yang kota bayangkan, meski mentari mulai izin pamit, dilangit mulai mendung kelabu, seakan semesta pun ikut serta akan perasaan ini. Aghh... Apalah aku masih mengingtmu, yang sekarang ini untuk sekedar bericerita pun sudah tak boleh.

Handphone ku bergetar, ternyata dari Arny , teman kerja ku dan Aris. Tapi aku lagi malas tuk berbicara dengan sesiapapun. Ku biarkan begitu saja, sengaja tak ku matikan handphone, khawatir nanti ada keluarga yang menelpon. "Mbak ada telepon", mas di sampingku berkomentar lagi. Biarkan saja mas gak begitu penting. 

Akhirnya sampai juga di kotaku. Kota yang inginya kita ciptakan kenangan disini. Tapi apalah daya. Mungkin Allah belum restu, mungkin ini teguran untuk kita Ar, bahwa semestinya sedari dulu kita tak sedekat ini, mestinya aku bisa menjaga jarak agar tak terciptanya perasaan itu. Banyak seytan yang ikut bermain tuk menjerumuskan kita. 

Aku jadi ingat beberapa hari lalu bertemu sahabat SMA ku. Lyla, dia sekarang bekerja di Jakarta, dia tampak syahdu dengan kerudung lebar yang menutupi tubuhnya, Hijrahnya mengenakan kerudung, merubah tingkahlakunya, membuat ia semakin Anggun. Dia tau semua kisah ini. Dan paling membuat menohok hati, ternyata kedekatan kita selama ini salah Ar, kemana- mana berdua, semua aktivitas dilakukan bersama, baik itu di tempat kerja ataupun aktivitas di luarnya. Itu salah, walaupun aku tak sempat berpikir ada perasaan apa- apa waktu itu,  walau kita juga tidak pernah berbuat yang aneh- aneh, tapi ternyata ada seytan- seytan yang mulai menjerumuskan kita.

"Ki, Tak semestinya hubungan lawan jenis yang bukan muhrimnya terlalu dekat seperti itu, hal itu bukan lagi seperti teman biasa. Harus ada batasnya, walau kamu bilang tidak ada apa- apa denganya, saat ini, kita tidak tau nantinya, dan kita tidak tau dengan perasaan Aris, banyak seytan yang mulai beraksi menjerumuskan dan mulai mempermainkan perasaan kalian". hati- hati bermain hati ki, perasaan itu seringkali berbolak balik. Kata- kata itu dulu pernah Lyla ucapkan di telepon, ketika aku sering bercerita kegiatanku selama di Jakarta, menceritakan teman- teman disini dan termasuk cerita Aku dan Aris.

Dan ternyata itu benar, hal yang dikhawatirkan Lyla terjadi. Lyla sempat berpesan " ikhlaskan Aris, ki mungkin bukan takdirnya, toh walau kamu tak ada perasaan sekalipun, kamu tidak boleh bersamanya terus, dia akan ada kehidupan lain dan itu membuat kecemburuan nantinya baik dari keluarganya bahkan Allah sekalipun akan cemburu jika kalian terus bersama tanpa ada ikatan yang sah. Bukan sekedar cemburu bisa jadi Allah akan Murka". kata- kata itu memang pelan dan lembut diucapkan Lyla, tapi bagiku itu seakan tamparan keras mengingatkanku bahwa itu salah.

Ya Allah, sejahat itu kah perasan ini, seakan membuat pembenaran diri selama ini, sibuk dengan dunia kami sendiri tanpa mempertimbangkan banyak memberikan ruang untuk seytan bermain di dalamnya. Kata- kata Lyla membuatku tersadar selama ini banyak hal yang tak semestinya aku dan aris lakukaan besama. Tak semestinya aku atau Aris saling bergantung, merasa ada yang kurang jika tak berasama dan sekarang merasa kehilangn. Mungkin saat ini lah imbas yang harus aku dan Aris terima, Allah belum restu akan takdir yang kami ciptakan sendiri. 

"Mbak sudah sampai", ucapan pak kusir delman memecah lamunanku. Entahlah akhir- akhir ini aku jadi banyak melamun. Memikirkan hal- hal yang tak semestinya ada lagi. Aku coba tuk ikhlas, aku coba tuk lebih dekat pada sang pemilik hati ini yang mungkin selama ini banyak terabaikan. Tapi masih saja begini. Mungkin aku belum bisa seperti Lyla, hijrah semua karna Allah. Tapi ada satu hal lagi yang aku suka dari Lyla, dia tak pernah menyalahkan atau menghakimuku, dia selalu mendukung perubahnku dan tak bosan memberikan saran walau kadang kuabaikan. Dia tetap selalu mengungatkanku agar berubah lebih baik dan lebih dekat dengan Allah.

Langakah kaki sudah dekat menuju pintu rumah, dan mulai saat ini tak ada kesedihan, tak ada lagi keresahan, semua serahkan Pada yang punya takdir. Aku harus kuat menjalani hidup tanpa Aris dan harus bisa jadi Makhluk Allah yang hanya bersandar kepadanya bukan dengan yang lain. 

Langkah ini terhenti, ketika terdengar suara yang tak asing bagiku yang berasal dari dalam rumah. Terlihat di depan pintu banyak sandal dan sepatu disana. Pagi- pagi sudah ada tamu, gumamku dalam hati. Tapi... Tunggu sandal gunung itu tak asing bagi ku...

*** Bersambung ***

@Kin_Chaniago
#JanjiMentari2

#week2
#1week1post
#WiFiRegionalJakarta





Minggu, 21 Januari 2018

Janji Mentari Part#1



Janji Mentari

Ar, hari ini aku tetap melanjutkan rencana perjalan kita. Meski kini bangku di sebelahku ini kosong tak berpenghuni.
Kau tau, aku tetap mencetak tiket kita. Berharap tiba- tiba kau tetap melanjutkan liburan ini.

Entahlah apa mungkin salahku yang kurang peka atau terlambat menyadari kisah kita selama ini. Aku yang menjadi bahan bulian penggemar mu, aku yang kadang di teror via telepon karna terlalu dekat denganmu. Dan aku yang sempat dikira istrimu ketika menemanimu datang di acara Reunian SMA mu. Aku hanya menanggapi itu biasa saja. Karna kita memang teman, tak pernah terlintas dibenaku bahwa itu adalah sebuah rasa.

Rasa yang yang dulu biasa saja tiba- tiba berubah menjadi istimewa. Namun sangat disayangkan aku tersadar itu ketika semuanya sudah tak berarti lagi.

Hari ini, tanggal ini yang mestinya perjalanan kita, liburan kita berganti menjadi hari bahagiamu, tapi sayangnya itu bukan denganku.

Masih membekas di ingatan ku Ar, seminggu yang lalu tanpa sepengetahuanmu, ibu mu sempat mengajak bertemu denganku.
Ibu meminta izin pada ku, agar aku melepaskanmu, meminta aku menjauh dari hidupmu.

Sungguh awalnya aku tak mengerti apa maksudnya ini, bukankah selama ini kita hanya berteman biasa saja. Tak ada ikatan, janji atau ada hubungan istimewa apapun itu.

Dan aku baru menyadari setelah ibumu bercerita, kamu menolak perjodohan itu demi aku. Kamu memendam rasa istimewa itu demi aku. Kamu khawatir jika rasa itu di ungkapkan kita akan berubah dan menjauh. Dan ibumu juga sempat bercerita bahwa sebenarnya rencana liburan kita ke kotaku itu adalah untuk melamarku. Kamu meminta ibu juga ikut bersama kita dan ingin memberikan kejutan untuk ku.
Kenapa harus begitu Ar ?

Kini perasaan dan jiwaku jadi kacau, aku tak tahu harus bahagia atau sedih.
Aku juga tak pernah memahami, apakah aku ada rasa yang sama?. Di satu sisi kamu berniat bukan sekedar menjadi teman biasa , tapi lebih dari itu, inginkan ku jadi teman hidupmu. Menjalani hidup bersama hingga syurganya. Tapi di sisi yang lain kini ibumu meminta aku agar menjauhimu.

Jujur aku tergamang, tak tahu harus berkata apa, lidahku keluh untuk berkata- kata saat itu.
Aku masih tak percaya jika ini nyata.
Aku berharap kamu tiba- tiba datang dan menjelaskan semua ini.

Teman seperjuanganku, teman bahagiaku, teman nagisku, teman yang tahu baik buruknya aku itu kamu Aris Prananta. Dan kini harus ku lepaskan, harus ku ikhlaskan tuk menjadi teman hidup orang lain.

Tanpa kusadari butiran air jernih mengalir di pipi dan ku sekat perlahan.
Lamunanku terhenti ketika ada sesorang yang mengulurkan saputangan biru untuk ku. Sontak aku terkejut, ketika aku menunduk sandal gunung yang dikenakan seseorang itu tak asing bagiku.

Tiba- tiba rasa yang tadinya renyuh berubah bahagia. Ketika aku mulai mengakat kepala dan menolehnya ke samping, ternyata itu bukan kamu.
Kenapa harus mirip sendalnya. Aku menggerutu di dalam hati.
Harusnya aku sadar, orang ini tak mungkin kamu. Keretanya saja sudah melaju kencang sedari tadi. Dan dari awal aku tak nampak peredaramu di stasiun itu.

Mungkin sekarang disana saat ini ibumu sedang melingari cincin di jemari wanita pilihanya itu. Dan semuanya tersenyum bahagia.
Semoga kamu juga bahagia ya Ar, meski itu bukan denganku.

Seseorang yang sedari tadi tanpa aku sadari kehadiranya, duduk di sebelahku tanpa permisi , menyapa dan tersenyum kepadaku. Raut mukaku pun berubah murung lagi.

Upsss... Tiba- tiba aku tersadar, kenapa ada orang duduk di sebelahku, bukankah ini posisi bangku mu Ar, dan tiketnya pun aku masih cetak. Harusnya ini tetap kosong.


*Gerbong 9, Kereta Api Jurusan Jakarta - Yogyakarta.

*** Bersambung ***

#Kin_Chaniago
#JanjiMentari
#week1
#1week1post
#WiFiRegionalJakarta

Minggu, 24 Desember 2017

Buku Tanda Cinta



Buku Tanda Cinta

Tak pernah terpikirkan olehku akan jadi begini akhirnya. Pada awalnya aku hanya ingin mendukung kakek untuk menulis kembali, agar tak larut dalam kesedihan setelah kepergianan nenek, tapi kini aku lah yang tergamang. Tertatih- tatih menyelesaika bait- bait syair puisi yang masih menggantung tanpa ujung.

Buku itu belum pernah ku sentuh sampai berminggu- minggu dan mungkin juga sudah berdebu. Perasaan masih tak percaya kakek sudah tak ada. Sosok inspirasiku, "mood booster" ku kini tinggal kenangan. Sampai saat ini kata- kata itu masih terngiang di telingaku. "Nay jika nanti kakek juga tak ada lagi, tulisan ini belum selesai, kamu harus selesaikan ya, dan harus menuliskanya disini menggunakan pena ini".

Akhirnya hari ini aku menguatkan diri, mencoba untuk tegar dan menjalankan amanah kakek. Buku ini harus selesai dan harus terbit. Setidaknya bisa di baca oleh semua cucu- cucunya. Perlahan aku membuka pintu ruang kerja kakek, hati ku mulai sebak, semenjak kejadian itu, aku belum pernah masuk lagi ke ruangan ini. Telalu trauma bagiku mengingat semua cerita itu, kakek berpulang tepat di pangkuanku. Firasatku benar, posisi buku itu masih sama, seperti terakhir kalinya aku merangkai syair puisi bersama kakek.

Aku sengaja tak memperbolehkan siapapun yang membereskan atau memindahkan apa pun yang ada di ruangan ini, hingga waktunya tiba, aku memeberanikan diri datang kesini lagi. Dan benar saja, buku ini mulai berdebu, masih sama, dalam keadaan terbuka, pena yang masih saja tergeletak diatasnya. Lagi- lagi aku harus menahan butiran air mata yang sedari tadi aku bendung. Aku tau, akupun tak boleh larut dalam kedukaan ini, aku harus bisa menyelesaikan buku ini, sebagai tanda begitu Cintanya kakek kepada nenek. Kumulai mengambil pena warisan kakek, dan mencoba mengingat kembali bait terakhir yang kami ukir bersama disini.

Gumpalan air mata yang aku tahan sejak tadi, akhirnya tak terbendung jua dan mengalir begitu derasnya, aku menangis sejadi- jadinya. Ternyata ada bait lain, yang aku tak ketahui, mungkin ini tulisan terakhir kakek, ketika aku sibuk mengambil selimutnya waktu itu.

" kamu kekasih belahan jiwaku
Tunggu lah aku di syurga itu
Semalam aku bermimpi tentangmu
Bermimpi menggenggam erat tanganmu
Kamu menarik tanganku
Mengajakku Berlari kecil
menuju taman cahaya itu
Inikah waktu yang ku tunggu ?
Inikah waktu yang ku rindu? "

Ternyata saat itu, kakek merasa waktunya sudah dekat menuju kesana. Ya Tuhan begitu tak pekanya aku. Ku sekat air mata yang masih mengalir di pipi, aku harus semangat menyelesaikan buku ini. Buku tanda cinta kakek pada nenek dan buku tanda cintaku pada mereka.

Seminggu kemudian, buku itu pun rampung aku tuntaskan. Dan aku mencoba tawarkan kepada penerbit yang pernah bekerja sama dengan kakek sebelumnya. Seakan semesta begitu menyertai dan ikut terharu atas kisah cerita ini, proses penerbitan buku berjalan dengan lancar.

Alhamdulillah, tak beberapa lama buku itu pun terbit dan tak pernah aku bayangkan bahwa buku tanda cinta ini akan booming. Mereka merasa, buku ini benar- benar tanda cinta, awal kisah cinta bak cerita sinderela dan berakhir bak romeo dan juliet. Hingga akhirnya kakek tak bisa berlama- lama menunggu waktu dan mengikuti tuk menutup mata jua.

#Day29
#30DWCJilid10
#BukuTandaCinta


Sabtu, 23 Desember 2017

Takdir Kita Di Dunia Relawan Part#1




Takdir Kita Ada Di Dunia Relawan
Part#1

Tak pernah terbayangkan sebelumnya, bahwa laki- laki yang ada di sampingku saat ini menjadi kekasih halalku. Jangankan tuk membayangkan, memimpikannya saja  aku tak pernah. Tak sempat terlintas dibenakku menjerumuskan diri ini ke dunia relawan  untuk mencari jodoh, tujuanku hanya satu berbagi kebahagian untuk sesama. Memutuskan untuk menjadi  relawan satu hal yang membuat duniaku lebih berwarna, ada banyak cerita disini. Dipertemukan dengan orang- orang baru yang akhirnya menjadi saudara seperjuanganku, kita bersama-sama berusaha tuk membahagiakan umat.

Namaku Hasna Nadia, asal dari Cilegon, seorang guru paud yang gajinya saat itu hanya 200.000 per-bulan. Selain itu aku juga mengajar di salah satu SD dengan gaji 500.000 per bulanya. Tak puas dengan hal itu aku ingin seperti teman- teman yang lainnya, kuliah tuk mencapai impian-impian mereka. Jalan itu tak mudah, karena aku dari keluarga yang tak berada, jangankan untuk membiayai aku kuliah, untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari- hari ibu dan ayah harus bekerja keras menjadi petani yang tak mempunyai lahan. 

Namun tekatku saat itu begitu kuat, aku ingin mencapai impianku sebagai guru dan ingin merubah kehidupan keluarga lebih baik. aku tau saat ini memang aku seorang guru, tapi hanya guru bantu, ilmuku tak banyak, di zaman serba canggih apalah arti seorang yang hanya lulusan SMA. Aku ingin menjadi guru yang seutuhnya, memiliki banyak ilmu dan mempunyai moral yang santun untuk mendidik muridku kelak. 

Setelah diskusi yang panjang, merayu pada ibu akhirnya aku kuliah, tapi hal ini tak semudah yang dibayangkan, aku harus tertatih- tatih membayar biaya kuliah dan sempat beberapa kali menunggak. Sempat berputus asa, tapi aku termenung kembali, perjuangku untuk memutuskan kuliah saja sudah berat, tak mungkin aku selesaikan hanya sampai disini saja. aku mulai mencari pekerjaan, tapi ada satu lagi kendalanya, ibu tak mengizinkanku kerja diluar dari kota, banyak hal-hal yang dikhawatirkanya jika anak perempuanya bekerja dan hidup di kota orang. Aku tak kehabisa akal, aku selalu merayu pada ibu dan tak lupa selalu libatkan Allah setiap langkahku, semoga langkah ini dan keputusan ini benar- benar dariNya serta di restui oleh ibu. Alhamdulillah setelah bicara dari hati ke hati ibu dan ayah mengizinkanku dengan deretan syarat- syarat yang panjang. Saat itu sepertinya semesta begitu menyertaiku tak beberapa lama aku mendapatkan pekerjan sebagai penanggung jawab Rumah Giat merupakan program pedidikan yang di sponsori oleh salah satu Departement store ternama.

Dan mulai saat itulah untuk pertama kalinya aku menjadi anak rantau di kota orang, kota Bekasi. Kebetulan kampus pusat ditempat aku kuliah tak jauh dari kota ini. Namun dikarenakan jalanan yang selalu macet hampir 3 jam perjalanan untuk sampai ke kampus. Tak jarang aku tertidur didalam angkot, ketika bangun perjalanan masih panjang dan tertidur lagi. Memulai hidup yang baru, rumah baru, lingkungan baru, harus kujalani. Bersyukur lingkungan tempat aku tinggal itu sangat mendukung program yang sedang aku jalanani. Terkadang ada cerita sedih tapi akan menjadi lucu jika diingat kembali, aku sering salah naik angkot atau kebablasan hingga sampai tempat yang tak aku ketahui. Itu lah resiko pertama yang aku alami menjadi anak rantauan, tapi dari sana aku belajar banyak hal. Belajar menjadi mandiri, lebih disiplin, lebih sabar dan banyak mengetahui tempat- tempat dibelahan bumi ini yang sebelumnya aku tak tahu.

Di kota ini lah takdir kami dipertemukan. Di dunia relawan dimana tempat aku menjerumuskan diri untuk hal- hal kebaikan. Di kota ini pun sama aku ikut bergabung, karena pergerakan kerelawanan ini tersebar di seluruh Indonesia, dari Aceh sampai Papua. Sunggu tak pernah aku membayangkan jika takdir kekasih halalku bersama dia. Dia, bang Riyo aku memanggilnya, sosok yang berpenampilam anak gunung, gaul dan agak bebas. Pertama kali aku melihatnya di agenda tahunan, pelatihan pendidikan dasar untuk relawan baru. Dia baru bergabung saat itu. Belum ada tegur dan sapa. Dan sampai suatu hari kami menjadi tim yang sama untuk membantu relawan Tangerang yang saat itu ada bencana banjir. Saat disana akulah yang sering memarahinya, membangunkan sholat subuh, disaat orang lain ke masjid dia masih tertidur. Pernah satu ketika saat dia tidur di kursi, aku bangunkan dengan suara yang keras, namun tetap tak bisa bangun, akhirnya ku pukul kursinya agar dia cepat bangun, namun cara itu tetap tak berhasil dia bangun sebentar hanya berpindah tempat dan tidur kembali.

Setelah beberapa hari kami dalam tim yang sama di tenda pengunsian banyak cerita yang baru aku ketahui, ada sisi kelam di balik dirinya. Jangankan untuk sholat lima waktu, sholat dalam satu tahun mungkin bisa dihitung, bahkan bisajadi setahun sekali saat hari raya. Namun di balik itu semua dia memiliki kepribadian yang baik, suka membantu teman dalam kesusahan. 

Seringnya pertemuan kerelawanan membuat kami makin sering bertemu dalam beberapa kegiatan yang sama. Dia sering membatuku di program Rumah Giat, dan teman- teman yang lainpun juga begitu. Sebagai anak perantauan aku merasa bahagia di dunia relawan ini di pertemukan dengan saudara- saudara yang baik dan ada beberapa juga relawan yang nasibnya sama sepertiku sebagai anak perantauan tak jarang apa yang kita alami kadang sama, sering salah angkot atau tersesat di jalan.

Bang Riyo sosok orang yang baik, dia tak pernah pandang orang itu siapa untuk dibantu, termasuk aku. Entah mengapa terkadang itu bukan pintaku tapi takdirlah yang mempertemukannya, disaat aku sedang perlu pertolongan, dia hadir disana. Aku tau ini bukan kebetulan, mungkin ini sudah jalanNya Allah yang telah tertulis disana. Tapi saat itu sama sekali belum ada perasaan apa- apa terhadapnya, karena aku pikir dia relawan, kita semua saudara, pastinya semua baik. Semakin sering bang Riyo ikut kegiatan relawan, Nampak beberapa perubahan yang lebih baik dari dirinya. Sudah mulai ingin sholat walau masih tertatih dan ikut kajian belajar tentang Islam. 

Aku menjalani aktivitas yang sangat padat, selain kuliah aku juga punya amanah menjalankan program pendidikan di Rumah Giat. Ini lah saatnya, aku mulai mengerjakan skripsi, jalanya tetap sama, masih banyak ujian yang harus aku dilewati, naik angkot hingga beberapa kali dalam waktu 3 jam baru sampai ke kampus, uang semakin pas- pasan. Karena biaya semakin besar. Tapi aku harus kuat, aku harus mencapai impianku, membawa kembanggan untuk keluarga dan tak mau membuat orang tua kecewa yang telah memberikan izin padaku hingga seperti saat ini.

Pernah suatu ketika aku harus bimbingan skripsi bersama Dosen,  diwaktu yang hampir bersamaan aku sedang mengajar di Rumah Giat, kegiatan ini baru akan selesai pukul 12.00, sedangkan aku harus datang pukul 14.00 untuk bimbingan. Aku bingung dan termangu sejenak, bagaimana bisa sampai ke kampus dengan waktu secepat itu. Aku hanya berserah diri pada Allah dan minta pertolongan diberikan solusinya . Dan tak terduga……

*** Bersambung ***

Jumat, 22 Desember 2017

Pena Warisan Kakek

Pena Warisan Kakek

Tangisku pecah tak tertahan, di akhir acara, aku melantunkan syair puisi di halaman terakhir buku ini. Saat ini aku sedang mengisi acara bedah buku "Kasih hingga ke Syurga".  Ini buku pertamaku dan yang terakhir buat kakek. Kami berdua yang menulisnya, sebagai tanda cinta kakek pada nenek.

di penghujung acara, aku menuntaskan janji pada peserta, untuk memberikan tanda tangan satu persatu dengan menggunakan pena warisan kakek. Semua penasaran pada pena ini. Pena ini ibarat mood booster untukku. Begitu berharganya pena ini. Tak lupa kuselipkan nama kakek di sebelah tanda tanganku di setiap bukunya.

Masih teringat jelas diingatanku, kakek berpulang tepat di pangkuanku. Pada hari ke 40 nenek meninggal, pagi itu setelah sarapan pagi, kami bergegas ke meja kerja kakek, tak sabar ingin menyelesaikan tulisan kisah cinta indahnya bersama nenek. Aku membantunya merangkai kata dan menyalinnya ke dalam "Laptop".

"Nay coba ambilkan pena kakek di atas lemari di sampingmu" (pinta kakek). Tak beberapa lama pena pun sudah di tangan kakek. Kami mencoba menuliskan puisi buat nenek, nenek seorang kekasih yang hebat, ibu yang kuat serta nenek yang selalu dirindukan semua cucunya.

Walau zaman sudah canggih, menulis tak perlu pakai pena, bisa langsung ketik di "laptop", kakek tetap ingin menuliskan semua kisahnya di dalam buku. Pernah aku berkata " kek, bagaimana kalau kakek cerita, nanti aku langsung menyalinnya di dalam laptop".  Kakek tak mau, ia ingin ceritanya langsung ada di buku. Dan jadi warisan berharga yang langsung bisa di baca cucu- cucunya.

Bait demi bait kami rangkai dengan indah, kakek menuliskan dengan pena tinta kesayangannya dan aku langsung menyalinnya.
Tiba- tiba kakek berhenti menulis, "Nay jika nanti kakek juga tak ada lagi, tulisan ini belum selesai, kamu harus selesaikan ya, dan harus menuliskanya disini menggunakan pena ini". (ujar kakek sambil menunjuk penanya). "kakek kok bicara begitu, pokoknya kita menulis ini harus sampai selesai dan sampai di cetak ya". (Sambil memeluk kakek, memberi semangat kepadanya).

Semenjak nenek berpulang, kakek sering murung, sering memandangi album kenangan mereka berdua. Maka dari itu aku mengajak kakek menuangkan kisahnya menjadi sebuah tulisan.

"Nay kaki kakek dingin, tolong kecilkan AC- nya dan tolong ambilkan selimut di atas meja ya." (pinta kakek) .  Tiba- tiba kakek merasa dingin, aku khawatir karena beberapa hari ini kakek terlihat kurang sehat. Setiba aku di samping kakek dan ingin menyelimuti kakinya, pena sudah jatuh di atas buku, kakek terlihat lemas. "kek, kenapa?"(tanya ku). Ia terlihat sesak, keringat  bermunculan bak butiran jagung. "Kita kerumah sakit ya" aku segera mengambil telepon yang ada di sampingku, tapi tangan kakek menarik tanganku "Tidak usah Nay, ini sudah waktunya kakek menemui nenek mu.  Maaf Nay, kamu harus menyelesaikanya sendiri cerita ini, pena ini kakek wariskan kepadamu" (sambil mengambil kembali pena yang jatuh tadi dan
mengulurkanya ke tanganku).

Tangisku tak tertahan lagi, "kek jangan begitu, Nay tak sanggup menyelesaikanya sendiri". Namun tubuh kakek pun sudah lemas di pangkuanku. Ku raba denyut nadinya, ku mencoba mendengarkan detak jantungnya, ku sentuh hidungnya, semua tak terasa, dia benar- benar sudah tak ada lagi.

#Day27
#30DWCJilid10